Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 8

 Tradingan.com - Lalu saat ia ingin mengeluarkan kerisnya seorang tentara memanah tangannya sehingga keris itu jatuh ke tanah, tiba-tiba di depannya muncul Jendral Subodai. Subodai langsung mencekik Sanjaya dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Dalam keadaan tercekik, Sanjaya berkata dengan suara terbata-bata,

“Siapakah.. kalian.. sebenarnya?”.
Subodai menjawab,”Orang lemah sepertimu seharusnya membusuk di neraka saja.”


Lalu cekikan itu bertambah keras, dan menghancurkan leher jendral itu. Darah bercucuran keluar dan menetes di wajah Subodai. Lalu jendral Mongol itu menjilati darah yang berada dimukanya. Hal itu membuat Suwongso terdiam dan tidak dapat berbuat apa-apa, tiba-tiba ia dikagetkan oleh tentaranya, karena sebagian tentara jatuh pingsan dan beberapa diantaranya mati ketakutan. Panglima Suwongso sekarang baru sadar mengapa pada malam sebelumnya ia dilarang oleh panglima Chen Mien untuk datang ke daerah itu.

Akhirnya benteng pun direbut, namun tentara Mongol itu langsung membakarnya, Suwongso menjadi binggung karena benteng itu dibangun didaerah yang cukup strategis untuk bertahan. Lalu ia akhirnya berkuda ke tempat sang Jendral dan mohon pamit untuk kembali ke wilayah Jendral Wijaya. Saat itu ia melihat semua wajah tentara Mongol berubah mengerikan. Wajah mereka bukan lagi tampak seperti manusia namun seperti kawanan serigala yang lapar dan haus darah. Wajah mereka semua kejam, dan tersenyum. Akhirnya sebelum Suwongso pulang ia mendengar salah seorang perwira bertanya kepada Subodai.

“Jendral, hari masih pagi. Daerah mana lagi yang harus kita makan?”

Suwongso baru sadar bahwa para tentara Mongol itu tidak perlu tempat untuk bertahan, mereka hanya tahu menyerang dan membantai. Suwongso segera pergi dari tempat itu karena takut. Saat ia kembali ke benteng Wijaya, ia langsung menceritakan semua yang ia lihat kepada semua orang.

Wijaya pun berkata,”Suwongso, apakah kau tahu kekuatan Chen Mien?”
Lalu Suwongso pun menjawab,”Iya, Ia jauh lebih kuat dariku, karena ia hampir membunuhku dulu.”
Wijaya terdiam sebentar lalu berkata,”Apabila kerajaan Sung yang banyak terdapat orang kuat seperti Chen Mien saja dapat dikalahkan oleh orang Mongol, berarti orang Mongol benar-benar bukan orang sembarangan, itulah sebabnya Chen Mien telah memberi tahu kepada kita agar hati-hati pada rapat militer tahun lalu.”
Lalu semua perwira dan panglima menjadi takut dan sadar akan kekuatan musuh yang mereka hadapi.

Dimalam harinya putri Ayu datang menjengguk panglima Chen Mien yang patah hati. Ia hanya duduk sendirian di kamarnya yang gelap dan sunyi. Kepalanya selalu tertunduk ke bawah, dan air matanya menetes setiap saat secara pelan-pelan. Ayu ikut sedih akan panglima yang setia kepada pemimpin dan kekasih ini. Ayu masuk kekamar itu dan mencoba untuk menghibur sang panglima. Namun hiburan itu tidak dapat merubah reaksi sang panglima. Ayu langsung berdiri dibelakang punggung Chen Mien yang sedang duduk dikursi dan memeluknya dari belakang. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 7

 Biodataviral.com - Siang dan malam mereka berkuda dan akhirnya mereka pun tiba di desa pecinaan. Di desa itu masyarakat mayoritasnya adalah warga negeri Sung, karena desa itu baru dibangun tidak lama. Terlihatlah seorang pemuda, dan berkuda ke arah Arjuna diiringi dua puluh tentara.

“Siapa kau, orang luar dilarang kemari ” kata pemuda itu.
Tanto lalu marah dan berkata, “Beraninya kau menghina kami. Kami adalah orang penting dari kerajaan Kediri. Ini adalah perwira Arjuna, anak dari Jendral Sanjaya.”
Mendengar hal itu pemuda itu langsung turun dari kuda dan membungkukan badan sebagai tanda memberi hormat.
“Maafkan kelancanganku, ternyata anda adalah anak dari Jendral yang menumpas kawanan perampok.”


Pemuda itu langsung mempersilahkan rombongan Arjuna untuk masuk ke desa itu. Pemuda itu badannya tidak begitu besar. Tingginya 178 cm, umurnya 30 tahun dan ia adalah kepala desa di daerah itu. Ia bernama Huang Man, tabib yang terkenal itu kemudian dipanggil dan memeriksa sang Jendral yang dibawa didalam kereta. Tabib itu kemudian mengatakan bahwa sang jendral terkena racun yang ganas. Hanyalah obat ginseng yang dicampur dengan tanaman dentet yang dapat mengobati racun itu. Pada saat itu tabib Xun Yang hanya mempunyai ramuan ginseng saja. Sedangkan tanaman dentet itu adalah tanaman yang sangat jarang ditemukan. Tanaman itu sangat berkhasiat dan hanya dapat tumbuh di puncak gunung Lorojangkung.

Akhirnya rombongan Arjuna pergi ke gunung itu yang ditemani oleh Huang Man. Sepanjang jalan itu entah berpuluh-puluh perampok dan binatang buas yang ditemui mereka, namun itu bukanlah masalah besar karena rombongan Arjuna jauh lebih kuat, namun sang jendral besar yang terkena racun itu tidak bisa tahan terlalu lama. Setelah mereka sampai digunung itu terlihatlah asap besar, ternyata datuk Tantong sedang membakar tanaman berkhasiat itu. Teman Arjuna, Tanto langsung berlari dan menyelamatkan salah satu tanaman itu, serta melemparnya ke Arjuna. Walau Arjuna dapat mengamankan tanaman itu, Tanto tidak sempat kabur dan mati terbakar. Dukun itu menjadi marah dan mengeluarkan panah racunnya yang berkhasiat.

“Ini adalah racun terakhirku, kalau tumbuhan ini tidak dibasmi, maka racunku bukanlah racun terhebat di Nusantara,” teriaknya.

Sinta langsung bergerak cepat dan memanah racun itu. Cairan racun itu jatuh dan meresap ke dalam tanah. Datuk itu menjadi marah dan memanggil dua ekor macan kumbang peliharaanya. Sinta langsung memanah macan yang berlari ke arahnya. Anak panah itu terkena leher macan, dan membuatnya jatuh ke tanah. Anggito dan Huang Man langsung mencabut pedangnya dan memenggal kepala macan itu. Sedangkan Arjuna yang naik pitam karena kematian temannya langsung berlari ke arah datuk itu.


Macan yang satunya lagi langsung mengejar Arjuna, dan terjadilah perkelahian yang luar biasa. Arjuna hanya berbekal pedang kecil, namun dapat membunuh macan kumbang itu. Arjuna masih belum puas, lalu mencabut kerisnya dan melompat ke arah datuk itu. Datuk itu jatuh ketanah dan berteriak tolong. Keris yang tajam dan berlikuk-likuk itu ditusuk dan ditarik di leher datuk itu secara berulang-ulang. Teman-teman Arjuna langsung berusaha menariknya pergi karena api kobaran digunung itu semakin besar. Akhirnya mereka berhasil kembali ke desa pecinaan dalam waktu tepat, dan mengobati sang jendral. Panglima Anggito langsung kembali ke benteng pertahanan untuk menjaganya. Sedangkan sang jendral harus beristirahat di desa itu selama beberapa bulan. Akhirnya Jendral itu sembuh dan kembali ke pos pertahanan. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 6

 Tradingan.com - Akhirnya pagi pun tiba dan hujan turun dengan derasnya. Para perwira dan panglima telah kehabisan tenaga. Mereka terus-terusan melihat bendera musuh di sekitar mereka. Akhirnya para perwira mengkhianati panglima mereka sendiri. Mereka mengikat Tanjung Palaka saat ia sedang tidur kecapaian dan mengantarnya ke Chen Mien.

Melihat hal itu Chen Mien langsung memerintah tentaranya untuk menghukum mati para perwira musuh,


“Aku paling benci para pengkhianat. Apabila panglima kalian saja bisa kalian khianati seperti ini, bagaimana dengan aku yang hanyalah perwira kecil,” kata Chen Mien dengan wajahnya yang penuh amarah.

Chen Mien langsung mengambil pisau kecil dan memotong semua tali yang mengikat panglima Tanjung Palaka serta memberinya mantel agar panglima itu terhindar dari derasnya air hujan,

“Apa-apaan ini,” tanya panglima yang sedang kebinggungan itu.
“Anda adalah panglima yang hebat. Aku benar-benar kagum pada anda sejak pertama kali kita berperang,” jawab Chen Mien.
Panglima Palaka itu terharu lalu bersujud di depan Chen dan berkata, “Aku juga sangat kagum pada anda. Anda tidak hanya kuat dan jantan, namun anda juga memiliki hati nurani yang besar. Aku Tanjung Palaka merasa sangat terhormat dapat gugur ditangan anda.”

Chen Mien langsung mempersilahkan ia berdiri dan membujuknya untuk bergabung dengan Panglima Wijaya. Ia langsung setuju dan bersumpah untuk rela mati memperjuangkan ambisi Wijaya untuk menguasai Nusantara.

Dengan bergabungnya Tanjung Palaka ratusan ribu rakyat ikut senang, karena negeri Kertanegara kuno yang telah terpecah belah, kini telah menyatu kembali. Panglima Wijaya sendiri datang ke negeri selatan dan saat ia bertemu dengan Tanjung Palaka, mereka langsung berpelukan. Ratusan ribu rakyat langsung menangis terharu karena mereka sekarang dapat bertemu kembali dengan sanak saudaranya yang terpisah lama, sejak kerajaan Kertanegara di pecah belah. Upacara itu juga sekaligus melantik Wijaya menjadi Jendral dan menguasai wilayah Kertanegara yang dulu.

Namun upacara itu tidak berakhir dengan bagus. Ada seorang tentara yang terluka berat dan berkuda ke arena upacara. Tentara itu langsung jatuh dari kuda pada saat ia melihat Jendral Wijaya,

“Perkemahan kita diserang tentara Kediri,” kata tentara itu dan menghembus napas terakhir.


Chen Mien langsung memimpin puluhan ribu tentara ke daerah itu dan menemukan banyak mayat. Para rakyat mengatakan bahwa banyak orang yang diculik termasuk putri Dwimurni sendiri. Perwira Chen langsung terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa.

Ternyata hal licik itu dilakukan oleh panglima dari Kediri, panglima Merauke. Serangan tiba-tiba itu dilakukan untuk menghancurkan kekuatan Wijaya pada saat ia tidak siap. Serangan itu berhasil, dan WIjaya harus membangun ulang kerajaannya dalam waktu paling sedikit satu setengah tahun. Putri Dwimurni ditahan di kamar panglima Merauke siang dan malam. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 5

 Aopok.com - Pada keesokan harinya, perang besar dimulai. Di suatu daerah dekat perbatasan, terbentanglah sawah yang luas. Terlihatlah para petani yang sedang menanam padi. Salah seorang petani terlihat lelah dan sedang berdiri sebentar untuk beristirahat setelah ia capek membungkuk lama. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh. Terjadilah gempa yang dahsyat. Air di sawah itu pun bergetar, dari pelan hingga menjadi besar. Petani itu menjadi binggung. Saat ia melihat keteman-temannya, semua petani lain pun terlihat binggung. Lalu ia mendengar suara dari atas langit.


Saat ia menoleh ke atas, terlihatlah ratusan burung terbang dengan cepat bagaikan menjauhi sesuatu daerah. Petani itu lalu melihat ke arah burung itu datang, dan saat itu ia baru sadar kalau ada asap debu yang mengepul besar ke atas. Ia menjadi takut, dan binggung entah harus kabur kemana, karena didalam hatinya ia berpikir apabila terjadi topan badai yang besar, maka lari pun percuma saja. Kemudian ada seorang petani yang berteriak di atas bukit dari arah asap debu itu.

“Oi.. Ayo cepat kemari, lihat ini!!”.

Petani itu menjadi binggung karena temannya mengajaknya untuk mendekati ke arah datangnya asap debu itu.

“Apakah dia sudah gila” pikirnya dalam hati.

Tetapi ia melihat puluhan petani lainnya berlari ke atas bukit, maka akhirnya ia pun memberanikan dirinya untuk berlari ke atas bukit. Saat ia memanjat bukit, agaklah susah dilakukan karena gempa itu masih belum berakhir. Kemudian saat ia berhasil memanjat sampai ke atas, kini ia baru tahu apa yang sedang terjadi.

Sekitar ratusan ribu tentara berkuda menyerang dari sebelah timur dan menabrak ratusan ribu tentara berkuda lainnya yang menyerang dari sebelah barat. Tanah pun bergoncang hebat akibat perang yang menggila itu. Lebih dari tiga ratus ribu tentara terlibat dalam perang yang begitu dahsyatnya. Para petani tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Tiba-tiba perang antar pasukan berkuda itu makin membesar dan para petani itu segera lari turun dari bukit itu, dan beberapa saat seketika perang itu menyebar hingga ke sawah.

Puluhan ribu tentara saling membunuh dan membuat sawah itu berubah menjadi warna merah darah. Ternyata tentara yang berperang adalah tentara Nawarjo dan tentara Wijaya. Penglima Nawarjo sendiri yang memimpin perang itu. Perang besar itu terus menyebar dan para tentara ada yang berperang sampai ke dalam hutan didekat daerah itu.

Dari jauh terlihatlah dua orang satria berbaju besi lengkap dan berkuda menerobos sekumpulan tentara. Setiap tentara yang melawan langsung habis dibabat. Ternyata mereka adalah perwira Chen Mien dan perwira Suwongso. Pasangan ganda itu berhasil menerobos ribuan tentara berkuda sampai ke sebuah kereta perang besar yang dijaga banyak tentara. Diatas kereta itu panglima Nawarjo memimpin pasukannya dalam berperang.

Melihat kedua perwira itu menyerang ke arahnya, maka Nawarjo memerintah tentara yang disekitarnya untuk memenggal perwira Suwongso. Ratusan tentara langsung menyerang membabi buta, namun badan Suwongso sangat besar, maka ia dapat menangkis serangan musuh dengan gampangnya. Suwongso lalu mengangkat salah seorang musuhnya lalu dilempar ke tentara lain.


“Cepat bunuh keparat Nawarjo, biar aku yang tangani cecurut ini,” teriak Suwongso.

Chen Mien langsung berkuda secepat kilat, ia lalu loncat dari kuda itu dan melayang sejauh tiga setengah meter. Lalu ia melempar tombaknya ke arah Nawarjo. Panglima Nawarjo lalu mengeluarkan pedangnya dan menangkisnya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 4

 Topoin.com - Karena putri Dwimurni tidak dapat berbincang-bincang dengan pria yang ditaksirnya, maka ia kembali kekamarnya. Pada malam harinya ia mendengar bahwa perwira Chen Mien telah selesai mengajar ayahnya bermain permainan penguasaan wilayah (salah satu dari permainan China kuno yang mirip dengan catur). Chen Mien pun telah kembali ke kamarnya. Putri Dwimurni mengetahui bahwa itu adalah malam terakhir baginya untuk bertemu dengan sang kekasih.


Ia-pun pergi ke kamar Chen, namun sampai tengah perjalanan di dalam istana, ia merasa malu dan kembali ke kamarnya. Ia terus-terusan gelisah karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, maka setelah lama kemudian akhirnya ia berdiri dari ranjangnya dan memutuskan untuk menjengguk perwira Chen untuk yang terakhirnya.

Sesampainya ia dipintu kamar sendiri, di bukalah pintu itu dan tiba-tiba seorang pembantunya dataang dengan wajah penuh darah dan cabikan golok. Putri Dwimurni pun kaget dan berteriak.

“Putri, cepat kabur, pasukan Narwajo sudah berada dalam istana ini” kata pembantu itu, kemudian ia jatuh ke tanah dan mati seketika.

Putri Dwimurni segera lari keluar dari kamarnya dan menuju taman istana. Disana ia melihat ratusan tentara berperang dan mayat panglima Lorosawe terbaring diatas pancuran air taman.

“Ayah!!” teriak Dwimurni sambil menangis.

Kemudian ia sadar kalau di belakangnya ada seorang jahat, besar, dan penuh dengan otak busuk, berdiri dibelakanganya.

“Salam putri, Namaku Pamong, perwira tinggi yang paling dipercayai oleh panglima Narwarjo dalam melaksanakan setiap tugas.”

Pria itu badannya gendut sekali dan tingginya mencapai lebih dari dua meter. Ia lalu mengangkat golok besarnya dan bersiap untuk menghancurkan Dwimurni berkeping-keping. Tiba-tiba sebuah panah melesat menusuk lengan Pamong. Ternyata perwira Chen Mien telah datang dengan menaiki sebuah kuda. Ia melesat cepat dan mengendong putri Dwimurni ke atas kuda. Lalu mereka pun kabur sampai keluar istana.

Ratusan tentara mencoba mengejar dan membunuh mereka berdua, namun Chen Mien berhasil melindungi putri cantik itu sampai ke hutan. Namun tiba-tiba puluhan tentara bayaran muncul secara tiba-tiba didalam hutan itu. Karena harus melindungi putri itu, maka Chen Mien banyak menerima sabitan tombak dan pedang. Baju perang Chen terkoyak-koyak dan banyak darah mengalir keluar. Chen Mien terus bertahan sampai akhirnya puluhan orang itu berhasil dibunuh semua.

Putri Dwimurni duduk di depan Chen Mien dan dipeluk dari belakang agar aman. Pelukan hangat itu membuat putri Dwimurni merasa nyaman, lalu putri itu mendekatkan kepalanya ke dada Chen. Perwira Chen Mien lalu melihat wajah putri yang cantik dan terkena sinar bulan itu dengan pandangan yang hangat. Namun tiba-tiba perwira gendut Pamong muncul dengan ratusan tentara berkuda dari belakang. Chen lalu berkuda dengan kecepatan tinggi sampai keluar dari hutan itu.

Setelah sesaat kemudian perwira Pamong pun berhasil keluar dari hutan itu, namun ia tiba-tiba terdiam karena di depan hutan itu ada ribuan tentara Wijaya yang dipimpin oleh perwira Suwongso.


“Chen Mien, pergilah ke perkemahan sekarang, biar cecurut ini aku yang tangani”.

Chen Mien pun melesat cepat kabur. Badan Suwongso hampir sama besar dengan perwira Pamong. Karena mereka berdua mempunyai gengsi yang sama, maka mereka berdua turun dari kuda dan duel satu lawan satu, tanpa menggunakan senjata. Perkelahian mereka berdua disaksikan oleh ribuan tentara secara kagum. Dua perwira raksasa bergulat di bawah sinar rembulan berlangsung sangat seru. Tanah dan pasir pun terangkat dan teriakan mereka berdua membuat binatang-binatang disekitar kabur ketakutan. Mereka saling meninju dan membanting. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 3

 Tradingan.com - Kini jendral Subodai berada dalam masalah besar. Ia tidak sanggup menahan malu di depan perwira Baatur.

“Aku memang makhluk tak berguna. Aku rela mencemarkan namaku dan tidak menaati perintah Ka-Khan (atau Kubilai Khan) hanya demi seorang wanita,” kata Subodai dengan kepala tertunduk.
“Setiap orang pasti dapat berbuat salah. Namun yang Jendral perbuat hanyalah kesalahan kecil. Cinta memang patut diperjuangkan,” jawab Baatur.


Mendengar hal itu Subodai kaget dan mengankat kepalanya. Baatur lalu melanjutkan,

“Aku sebagai perwira tentara Monggol, mengabdi setia kepada Jendral sejak dulu. Harap Jendral dapat mempercayakan hamba dalam menjaga rahasia ini. Namun sangat disayangkan bukan hanya hamba yang tahu akan rahasia ini”.
“Meng.. Chi..,” kata Subodai dengan suara pelan.

Sementara itu di perkemahan tentara Wijaya, Panglima Wijaya menugaskan perwira Chen Mien untuk memimpin tiga ratus pasukan untuk menyerang pasukan pemberontak yang dipimpin oleh panglima Nawarjo. Pada malam itu juga Chen Mien langsung berangkat dengan misi serangan mendadak ke perkemahan musuh.

Dahulu pada saat raja Kertanegara meninggal, banyak jendral lain yang kabur dan membentuk pasukan tersendiri. Negeri Kertanegara terbagi menjadi empat bagian. Yang pertama adalah negeri selatan yang dipimpin oleh panglima Tanjung Palaka. Yang kedua adalah negeri barat yang dipimpin oleh panglima Lorosawe. Yang ketiga berada di sebelah timur, berbatasan dengan kerajaan Kediri, dipimpin oleh panglima Nawarjo yang kuat dan haus perang. Dan yang terakhir adalah negeri utara Jawa yang dipimpin oleh panglima Wijaya.

Serangan pada malam hari itu ditujukan untuk merebut negeri timur sehingga tentara Wijaya dapat menyerang kerajaan Kediri dengan mudah. Perwira Chen Mien melakukan sistem formasi barisan gerak cepat, sehingga pasukan Chen Mien melewati perbatasan negeri Timur sebelum fajar. Saat matahari mulai menampakan dirinya, perwira Chen Mien telah sampai di depan gerbang benteng Nawarjo, namun tiba-tiba gerbang benteng terbuka dan sekitar tiga ribu tentara menyerang keluar.

Chen Mien sadar kalau panglima Nawarjo telah mengetahui serangan mendadak. Chen Mien segera memerintahkan tiga ratus tentaranya untuk mundur, tetapi dari belakang terlihatlah sekitar dua ribu pasukan yang dipimpin panglima Tanjung Palaka menyerang untuk membantu Nawarjo. Ternyata Nawarjo telah membentuk persekutuan dengan Tanjung Palaka dan Lorosawe sejak lama. Chen Mien memerintahkan tentaranya untuk melakukan serangan puputan ke arah Nawarjo.


Serangan menggila itu berhasil dan Chen Mien hampir memenggal kepala Nawarjo, namun Tanjung Palaka dengan menaiki kuda hitam datang pada saat yang tepat dan menahan tombak Chen Mien. Melihat hal itu Nawarjo segera kabur ke dalam benteng dan mengunci gerbangnya. Tiga ribu tentara Nawarjo dibiarkan berperang diluar membantu Tanjung Palaka. Keadaan begitu kacau dan duel diantara Tanjung Palaka dan Chen Mien berlangsung seru.

Chen Mien langsung melempar tombaknya ke arah Tanjung, namun tombak itu berhasil di elakkan. Tiba-tiba tombak yang dilempar itu tertarik kembali ke tangan Chen Mien, rupanya ujung belakang tombak itu diikat tali, sehingga Chen Mien meraik kembali tombak itu dan mengayunkan secara kuat ke arah Tanjung. Ayunan itu berhasil memukul kepala Tanjung sehingga ia pingsan dan dilarikan tentaranya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 2

 Aopok.com - Setelah Ayu meninggalkan ruangan itu, Subodai pun berjalan kembali ke kamarnya. Pada saat ia kembali kekamar, ia hanya duduk dikursinya dan terus membayangi kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Ayu. Tanpa disadari seorang tentara mengetuk pintu kamar sang Jendral dan berkata bahwa makan malam telah tiba.

Jendral Subodai baru sadar bahwa ia benggong di kamar sendirian selama dua jam. Maka ia-pun bangkit dari kursinya dan mengikuti makan malam bersama para tentaranya. Pada saat ia makan malam, Subodai terlihat agak kurang nafsu makan dan hanya duduk terbenggong. Meng Chi melihat wajah Subodai dari samping dan tersenyum.


“Jendral, makanan yang terlampau dingin, tidak enak untuk dicicipi” kata Meng Chi.

Subodai terkejut dan baru sadar kalau ribuan tentara sedang memandangnya. Salah satu perwira Subodai yang setia bernama Baatur berkata kepada Jendral Subodai,

“Jendral, ada apa gerangan? Mengapa Jendral terlihat aneh malam ini? Apakah ada masalah besar?”
Subodai bertambah malu dan tidak bisa mengutarakannya, lalu ia tiba-tiba berkata,
“Benar katamu, Aku sedang binggung dalam suatu masalah. Oleh sebab itu, Setelah makan malam, aku akan mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah ini.”

Para tentara itu pun akhirnya melanjutkan makan malam mereka. Meng Chi tersenyum dan berpikir,
“Kau memang bisa menutup rahasia ini dari prang-orang bodoh. Tapi aku bukanlah orang bodoh yang kau kira. Ikan yang busuk, sebagaimana ditutupi, baunya pasti akan tercium juga”.

Setelah makan malam, semua tentara menghadiri pertemuan. Subodai pun berkata,

“Kita ditugaskan oleh Ka-Khan (atau Kaisar Kubilai) untuk menghancurkan kerajaan Kertanegara, namun kerajaan lemah itu telah hancur sebelum kita tiba. Sekarang ada seorang panglima yang bernama Wijaya menawarkan kita untuk bekerja sama dalam menaklukan kerajaan raksasa Kediri dan puluhan kerajaan kecil lainnya. Apabila kita menang, kita akan dihadiahkan setengah dari tanah Jawa. Sekarang aku sedang binggung apakah kita lebih baik kembali ke Monggolia dan melapor semua hal ini kepada Ka-Khan atau kita membantu panglima Wijaya untuk menguasai tanah Nusantara.”

Lalu serentak para tentara itu berteriak,
“Kuasai Nusantara! Kami sudah bosan makan dan tidur. Sudah puluhan tahun kami tidak berperang, Ha ha..”
Mendengar hal itu Jendral Subodai berkata,
“Tapi bukankah itu berarti kita mengabaikan perintah Ka-Khan dan bertindak sendiri?”
Mendengar hal para tentara langsung terdiam. Meng Chi langsung berkata,
“Kalau kita menghancurkan negeri lain, bukankah Ka-Khan akan lebih senang. Tanah Nusantara dapat menjadi hadiah yang sangat istimewa untuk Ka-Khan”.
Para serdadu langsung berteriak setuju kepada ide panglima Meng Chi. Jendral Subodai tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menyetujui hal itu. Namun dalam hatinya ia-pun senang karena ia dapat bertemu dengan Ayu.


Setelah pertemuan selesai, semua tentara dibubarkan dan kembali ke pos masing-masing. Pada malam itu diperkemahan panglima Wijaya juga diadakan rapat militer. Terlihat seorang perwira gagah berbaju panjang terbuat dari sutra dan bergambarkan naga terbang yang mencari bola api. Perwira itu bermata tajam dan berwajah tampan. Namanya adalah Chen Mien. Ia adalah tangan kanan panglima Wijaya. Disamping panglima Wijaya ada seorang perwira brewok yang besar dan gagah perkasa. Tinggi perwira itu mencapai lebih dari dua meter. Tubuh perwira itu penuh dengan otot dan bulu didadanya. Nama perwira itu adalah Suwongso. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 1

 Biodataviral.com - Pada suatu malam, dimana para nelayan sedang berlabuh untuk mencari ikan di laut Jawa. Malam gelap gulita, dan tepat pada saat itu terjadi gerhana bulan.

“Wah, bulan menghilang,” kata seorang nelayan sambil mendayung perahunya.
“Sepertinya akan terjadi hal yang buruk, menimpa negeri Jawa,” kata nelayan yang lain.
“Ah.. Itu hanyalah takhyul, jangan percaya yang tidak tidak”


Karena malam itu sangat gelap gulita, maka para nelayan itu menghentikan perahu mereka sesaat agar tidak tersesat di lautan luas. Kemudian terdengarlah suara orang berbicara dan ombak air bergelombang besar.

“Suara apa itu?” tanya seorang nelayan.

Namun karena mereka tidak dapat melihat apa apa, maka mereka pun hanya terdiam saja. Dan kemudian beberapa saat kemudian, gerhana bulan pun selesai. Cahaya bulan kembali bersinar terang. Para nelayan itu kemudian melihat ke arah dimana suara aneh itu datang, dan saat mereka berpaling, terlihatlah sebuah logam baja raksasa bergambar wajah yang menyeramkan.

“Ah Naga raksasa! Ayoo kabur,” teriak salah seorang nelayan.

Namun yang mereka lihat bukanlah seekor naga, namun sebuah kapal raksasa yang berlabuh tepat di depan mereka. Kapal itu berbekal sebuah logam raksasa bertulisan huruf aneh yang menyerupai huruf sansekerta.

“Brak!”

Kapal raksasa itu menabrak perahu nelayan dan para nelayan pun hanyut terseret ombak raksasa yang berasal dari kapal raksasa itu. Salah seorang nelayan sebelum tenggelam ke dalam laut, ia pun merasa kaget dan tidak percaya apa yang baru saja ia lihat. Di belakang kapal raksasa tersebut, ada ribuan kapal raksasa lainnya mengikuti dari belakang. Di setiap tepi kapal ada tiang bendera besar yang melambai-lambai. Bendera itu berwarna kuning emas dan bergambarkan naga yang sedang bersiap perang.

Nelayan itu berteriak,

“Tolong!”

dan dari jauh terlihatlah ada seorang pria berdiri di tepi kapal. Pria itu memakai baju perang aneh yang terbuat dari baja. Kepala pria itu botak dan ada rambut panjang terkepang lurus kebawah di atas kedua telinga mereka. 


Pria itu mengambil suatu benda dimana nelayan tersebut tidak dapat melihatnya, karena sinar bulan yang terang sedikit terhalang kapal. Tiba-tiba sebuah anak panah besar melayang dan tertancap tepat di leher nelayan tersebut. Nelayan itu pun mati dan tenggelam di laut Jawa. Ternyata kapal-kapal raksasa itu adalah kapal milik kerajaan Monggolia dari daratan utara.

Seorang pria yang baru saja memanah nelayan itu ternyata adalah seorang tentara perang. Ia pun pergi ke dalam kapal dan melaporkan yang baru saja ia lakukan kepada atasannya.

“Apakah ada yang berhasil lolos,” tanya atasannya.
“Tidak Jendral Subodai”. Setelah itu ia pun pamit dan kembali ke posnya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Ambisi Wijaya Ngentot Tante Birahi

 Biodataviral.com - Setahun setelah Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, kerajaan raksasa Mongolia mengalami keruntuhan dimana pasukannya dikalahkan diseluruh dunia. Puluhan kerajaan baru bangkit dan berlomba untuk menjadi yang terkuat. Salah satunya adalah kerajaan Ming dari China yang berhasil menjajah kembali negeri Mongolia serta menciptakan kekuatan yang ditakuti diseluruh kawasan Asia timur maupun Asia tengah. Raden Wijaya sebagai penguasa negeri terkuat di Asia tenggara diundang oleh Kaisar Cu Len Zhang dari kerajaan Ming untuk menghadiri pesta besar atas keberhasilannya dalam membangun kembali negeri China yang kuat.


Raden Wijaya ditemani oleh jendral besar Chen Mien dan dua ratus tentara karena Chen Mien lebih mengenal situasi daerah di negeri China dibanding denga siapapun juga. Sedangkan kerajaan Majapahit sendiri dijaga oleh tangan kiri Raden Wijaya, jendral Suwongso. Setelah rombongan Raden Wijaya tiba di pelabuhan Nanjing, ia disambut oleh panglima Lee dengan hormat. Raden Wijaya dibawa ke kota Ce Jing Zhen atau disebut juga kota terlarang (kota ini sekarang menjadi Beijing). Terlihatlah sebuah istana yang sangat besar dan menyerupai sebuah kota. Saat pintu gerbang dibuka terlihatlah rumah-rumah besar. Saat itu juga banyak rombongan lain yang tiba seperti rombongan dari negeri Korea, Jepang, India, Persia, Thailand, Burma, Annam (negeri Vietnam dulu), Srilanka, dan Tibet.

Pada malam harinya pesta pun dirayakan. Banyak penari cantik dipanggil untuk menari dengan selendang tipis dan setengah tembus pandang. Arak dan makanan dihidangkan. Para tamu berpesta sampai lupa waktu. Sebagian tamu berdiri dan ikut menari bersama para penari itu. Selain cantik, para penari itu mempunyai tubuh yang elok, dan hanya memakai selendang sutra tipis, buah dada mereka terlihat menonjol besar dan ada bayangan pentil payudara. Garis pantat pun terlihat sedikit.

Setelah lama berpesta akhirnya para tamu kembali ke kamar masing-masing. Pada keesokan harinya diadakanlah negoisasi damai antar negara. Kerajaan Korea, Burma, Annam, India, Thailand dan Tibet menyatakan kesetujuan mereka untuk mengakui kerajaan Ming sebagai kerajaan yang terkuat dan mereka akan memberi upeti berupa sandang dan pangan setiap tahunnya. Sedangkan kerajaan Persia dan Jepang menyatakan untuk melupakan dendam lama antar negara dan menjadi sahabat baik negeri Ming. Sedangkan untuk kerajaan Majapahit, Kaisar Cu Len Zhang sendiri menawarkan Raden Wijaya untuk menjadi sekutunya dalam menghadapi musuh. Raden Wijaya menyetujuinya dan membuka hubungan dagang antar negara. Keesokan harinya para tamu semua pulang ke negeri masing-masing.



Pada saat Raden Wijaya tiba di pelabuhan Nanjing hari sudah gelap, maka ia menunda kepulangannya dan berniat untuk menetap di pelabuhan itu semalam. Panglima Lee sendiri memohon pamit dan kembali ke posnya sendiri. Malam pun tiba, Raden Wijaya dijamu dengan makanan terkenal di negeri Ming pada waktu itu yaitu Bebek Pe King. Setelah selesai menghabiskan bebek panggang. Raden Wijaya kembali ke kamarnya untuk tidur sedangkan jendral Chen Mien memesan sebuah rangkaian kerangka dari besi besar dan tiga wanita cantik untuk menari tarian erotis didalamnya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia